Ibu Tua Pergi Setiap Rumah 3 Orang Anaknya Sebelum Meninggal Dunia. Apa Makanan Yg 3 Anaknya SEDIAKAN Buat Ramai SAYU !!!

| August 20, 2017 | 0 Comments

Ibu Tua Pergi Setiap Rumah 3 Orang Anaknya Sebelum Meninggal Dunia. Apa Makanan Yg 3 Anaknya SEDIAKAN Buat Ramai SAYU !!! | Ada seorang janda yang tinggal di desa. Hidupnya sangat sengsara, suaminya juga sudah meninggal karena terlalu lelah. Selama bertahun-tahun, tidak ada yang ingat nama aslinya. Semua orang memanggil janda tersebut Wati.

Wati selalu mengatakan bahwa anak laki-laki dapat menjaga kamu pada masa tua. Namun, ia hanya mempunyai 3 anak perempuan.

Setiap hari, ia bekerja keras demi anaknya. Ia membesarkan mereka sampai semua anaknya menikah. Setelah ketiga anaknya masing-masing telah menikah, ia juga pelan-pelan menua. Rambutnya sudah berubah menjadi putih. Kulitnya keriput dan kendor.

Wati sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Ia tidak mau pergi mencari anak-anaknya lalu ditendang sana sini seperti bola. Musim dingin tahun ini, Wati sudah mulai susah jalan. Tidak usah ngomong soal masak, pasti tidak mampu. Ia mulai berpikir tentang pemakamannya.

Wati mempunyai satu benda berharga yaitu sebuah jepit rambut yang terbuat dari emas. Sebelum ia pergi, ia tidak akan meminta apa-apa kepada anaknya. Ia hanya ingin memberi barang peninggalan ini kepada salah satu mereka. Selain jepitan itu, ia tidak punya apa-apa, hanya rumahnya yang bocor.

Ia ingin memberi jepitan tersebut kepada putrinya yang paling berbakti, dengan begitu ia baru dapat jalan dengan tenang.

Tapi, siapa yang paling berbakti?

Setelah ketiga anak menikah, mereka jarang mengunjungi ibunya. Untungnya, rumah mereka tidak jauh. Wati memutuskan untuk pergi mencari mereka dan melihat siapa sih yang paling peduli dengannya.

Paginya, ia pergi ke rumah putri sulungnya, Yenni. Yenni menikah dengan kepada lelaki yang lumayan kaya di desa. Melihat ibunya datang, Yenni menyiapkan semangkuk bubur dan sayur asin untuknya.

Wati tidak menghabiskan makanannya, giginya sudah tidak kuat lagi. Ketika ia sudah siap pergi, ia melihat anak Yenni di depan rumah. “Nek, yuk makan. Mama bilang hari ini ada masak daging sapi loh.”

“Nenek udah makan, kamu saja yang makan.” Jawab Wati. Dalam hati ia merasa sedikit kecewa.

Ia pun pergi mencari anak keduanya, Inang. Inang menikah dengan lelaki yang baik. Pekerjaannya juga lancar dan menghasilkan banyak uang. Namun, melihat ibunya datang mengunjunginya, Inang sedikit tidak senang. Ia memberi ibunya sayur sisa, roti dan air hangat untuknya.

Wati merasa seperti pengemis. Ia hanya mampu makan beberapa gigit, air matanya juga mulai mengalir. Inang malah pura-pura tidak melihat dan berkata, “Bu, udah siang nih. Buruan balik gih, anak dan suami sebentar lagi mau pulang. Aku bakal jadi sibuk banget.”

Wati mengangguk. Saat itu sekitar jam 12 ketika matahari sedang terik-teriknya. Ia pun pergi dari rumah Inang.

Wati menggeleng-geleng kepalanga. Hidupnya paling susah ketika mengurus kedua anak perempuan ini, tapi sekarang tidak ada yang bersedia menyiapkan apa-apa untuknya.

Ia pun menuju ke rumah anak ketiganya, Siti. Keadaan Siti paling susah dibanding kedua kakaknya.

Siti bergegas keluar dan menyiapkan semangkuk air ketika melihat ibunya datang. Wati pun berpikir, semua darah dan daging ku memperlakukan ku seperti ini. Jepitan emas ini ku bawa ke dalam peti mati saja deh.

Saat ia siap-siap mau pulang, Siti mengeluarkan daging sapi dan sayuran segar. “Bu, malam ini kita makan enak yuk.”

Wati tercengang melihat masakan di tangan Siti. Ia tahu jelas kondisi Siti yang susah tidak mampu membeli daging-dagingan. Paling pada saat tahun baruan atau jika ada hari spesial saja. Uang dari mana?

Siti melihat ibunya dan berkata, “Bu, suamiku baik kepadaku. Memang hidupku lebih pahit, tapi ibu tidak usah khawatir. Katanya, jika ekonomi kami sudah mendingan, tahun depan ibu boleh pindah ke rumah kami.”

Wati tersenyum, air matanya berlinang. Namun, air mata kali ini bukan karena ia sedih, tapi karena ia terharu. Ia mengeluarkan jepitan emas tersebut dan memasangnya kepada rambut putrinya.

Ia berkata, “Nak, ini adalah barang terakhir yang dapat kuberikan padamu. Aku tidak pernah rela menjualnya walau pada saat masa-masa pahit dalam hidupku. Barang inilah sesuatu yang mengingatkanku untuk terus melihat ke depan. Masa sulit pun dapat terlewati.”

Siti mengangguk, ia ingat masa-masa itu bersama dengan kedua kakak dan ibunya. Wati memasang jepitan tersebut ke rambut Siti.

Tidak lama kemudian, Wati pun meninggal dengan tenang.

Yenni dan Inang bertengkar tentang siapa yang akan mewariskan rumah ibunya. Sedangkan Siti tidak ikut campur. Ia melewati hidup dengan bahagia dan damai.

Setelah bertahun-tahun lewat, rambut Siti pelan-pelan berubah menjadi warna putih, ia tetap memakai jepitan pemberian ibunya. Jepitan tersebut kemudian diwariskan ke anaknya, karena Siti tahu dengan adanya jepitan ini, kehidupan tidak akan sulit lagi.

Sebagai anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada orang tuanya. Kewajiban ini tidak gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga malah meninggalkan kewajiban ini. Mengingat orang tualah yang membesarkanmu dari bayi hingga sekarang.

Dari yang belum bisa jalan sampai lulus kuliah. Dari tidak bisa makan sendiri sampai bisa masak. Kamu yang sekarang semua berkat dari jerih payah orang tuamu. Hargailah mereka, sayangi mereka dengan sepenuh hati.

Sumber : exoramaroon

PALING POPULAR BULAN INI .. JOM BACA !!

Tags: , , , ,

Category: KISAH SOSIAL

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *